Model Pengembangan dan Organisasi Kurikulum

Wednesday, March 20th, 2013

Model Pengembangan dan Organisasi Kurikulum.

oleh Fertika

 

Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain, menerapkan, dan mengevaluasi suatu kurikulum. Untuk itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan. Setiap model pengembangan kurikulum memiliki karakteristik pada pola desain, implementasi, evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran. Model-model pembelajaran yang akan dibahas, yaitu model Ralph Tyler (1949), Administratif, Grass Root, Demonstrasi, Miller-Seller, Taba dan model Beauchamp.

Menurut model Tyler, ada empat tahap yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

  1. Menentukan tujuan pendidikan;
  2. Menentukan proses pembelajaran yang harus dilakukan;
  3. Menentukan organisasi pengalaman belajar;
  4. Menentukan evaluasi pembelajaran.

Terdapat tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan tujuan pendidikan, yaitu hakikat peserta didik, kehidupan masyarakat masa kini, dan pandangan para ahli bidang studi. Selanjutnya ketiga sumber ini difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat, filosofis pendidikan serta psikologi belajar. Ada lima faktor penentuan tujuan pendidikan, yaitu: pengembangan kemampuan berpikir, membantu memperoleh informasi, pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik, dan pengembangan sikap sosial. Dalam proses pembelajaran yang harus diperhatikan adalah persepsi dan latar belakang kemampuan peserta didik.

Model administratif, model pengembangan ini disebut juga dengan istilah dari atas ke bawah (top down) atau staf line (line-staff procedure), artinya pengembangan kurikulum ini ide awal dan pelaksanaannya dimulai dari para pejabat tingkat atas pembuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum. Kurikulum yang disusun merupakan kurikulum yang bentuknya seragam dan bersifat sentralistik, sehingga kurang sesuai jika diterapkan dalam bidang pendidikan yang negaranya menganut asas desentralisasi.

Model Grass Roots, model ini kebalikan dari model administratif, dimana pengembangan kurikulum ini dimulai dari bawah, diawali dari gagasan guru sebagai pelaksana pendidikan di sekolah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:

  1. Guru harus profesional;
  2. Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum, penyelesaian permasalahan kurikulum;
  3. Guru harus terlibat langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan penentuan evaluasi;
  4. Seringnya pertemuan kelompok dalam pembahasan kurikulum yang akan berdampak terhadap pemahaman guru dan menghasilkan konsensus tujuan, prinsip, maupun rencana-rencana.

Model demonstrasi memiliki beberapa keuntungan, di antaranya: kurikulum ini lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan diteliti secara ilmiah, perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan perubahan kurikulumyang sangat luas dan kompleks, hakikat model demonstrasi berskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan, model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program baru.

Model Miller-Seller merupakan pengembangan kurikulum kombinasi dari model transmisi (Gagne) dan model transaksi (Taba’s & Robinson). Langkah pertama adalah menguji dan mengklarifikasi orientasi. Menurut Miller dan Seller, ada tiga jenis orientasi kurikulum yaitu transmisi, transaksi, dan transformasi. Langkah berikutnya adalah mengembangkan tujuan umum (aims) dan mengembangkan tujuan khusus berdasarkan orientasi kurikulum yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah identifikasi model mengajar. Model mengajar harus disesuaikan dengan tujuan umum ataupun tujuan khususnya, struktur harus sesuai dengan kebutuhan siswa, guru harus memahami model yang disajikan, harus memiliki sumber yang essensial dalam pengembangan model. Langkah yang terakhir adalah implementasi, penerapan kurikulum berdasarkan langkah-langkah sebelumnya.

Model Taba, model ini merupakan modifikasi dari model Tyler, ditekankan terutama pada pemusatan perhatian guru. Menurut Taba, guru  harus menjadi innovator dalam pengembangan kurikulum. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pengembangan ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru;
  2. Menguji unit eksperimen;
  3. Mengadakan revisi dan konsolidasi;
  4. Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum
  5. Implementasi dan desiminasi.

Model Beauchamp memiliki lima tahapan, yaitu:

  1. Menentukan arena atau wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum;
  2. Menetapkan personalia (siapa saja yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum);
  3. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, berkenaan dengan merumuskan tujuan umum, khusus, memilih isi, kegiatan evaluasi dan desain kurikulum secara keseluruhan;
  4. Implementasi kurikulum;
  5. Evaluasi kurikulum.

Setelah dibahas mengenai model pengembangan kurikulum, sekarang kita bahas tentang organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum merupakan pola susunan sajian isi kurikulum, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.

Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sehubungan dengan organisasi kurikulum, yaitu: ruang lingkup atau cakupan, urutan bahan, kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan. Secara umum terdapat dua bentuk organisasi kurikulum, yaitu kurikulum berdasarkan mata pelajaran dan kurikulum terpadu.

Kurikulum berdasarkan mata pelajaran dapat dibagi ke dalam tiga bentuk, di antaranya:

  1. Mata pelajaran yang terpisah-pisah, dalam proses pembelajarannya cenderung kurang memerhatikan aktifitas siswa karena yang dianggap penting adalah penyampaian informasi sebagai bahan pelajaran dapat diterimadan dihafal oleh siswa.
  2. Mata pelajaran terhubung, isi kurikulum yang menghubungkan pembahasan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, atau satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya.
  3. Fusi mata pelajaran, menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan. Contohnya IPA, IPS, Bahasa, Matematika, Kesenian.

Kurikulum terpadu terbagi ke dalam tiga bentuk, yaitu:

  1. Kurikulum inti, menggunakan bahan-bahan dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu guna menjawab atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapi atau dipelajari siswa;
  2. Social Functions dan Persistent Situations, didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat;
  3. 3.      Experiences atau Activity Curriculum, cenderung mengutamakan pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintregrasi dengan lingkungan maupun dengan potensi siswa.

 

Sumber :

Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: