Konsep Kurikulum

Wednesday, February 6th, 2013

KURIKULUM. Ketika mendengar kata kurikulum, banyak orang mengaitkan kata tersebut pada bidang pendidikan, ya, karena kata tersebut lebih sering digunakan dalam bidang pendidikan. Tahukah Anda? bahwa sebenarnya kurikulum itu awalnya lebih dikenal pada bidang olahraga, namun sejak tahun 1856 istilah tersebut dikenal dalam bidang pendidikan. Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, curir yang berarti pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Kurikulum populer di Indonesia sejak tahun 1950-an yang diperkenalkan oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat. Dalam sumber yang berbeda ada yang menyebutkan bahwa kurikulum berasal dari kata curriculum yang berarti lintasan untuk balap kereta kuda yang biasa dilakukan oleh bangsa Romawi pada zaman kaisar Gaius Julius Caesar di abad pertama tahun masehi.

Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan harus memiliki tujuan dan sasaran yang akan dicapai, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar. Berikut ini beberapa hal mengenai kurikulum di kalangan masyarakat pada umumnya:

  1. Kurikulum dibuat untuk mencapai tujuan pendidikan jangka panjang;
  2. Kurikulum dijadikan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran (bagi guru);
  3. Kurikulum merupakan kumpulan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa atau yang harus disampaikan oleh guru;
  4. Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan (bagi kepala sekolah);
  5. Kurikulum merupakan pengaturan yang sistematis dan terstruktur;
  6. Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu;
  7. Kurikulum mengandung cara, metode, dan strategi pengajaran;
  8. Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan;

Para ahli pendidikan mempunyai pandangan yang berbeda-beda terhadap kurikulum, contohnya saja Bogoslousky yang mengutarakan bahwa kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, yaitu universum (ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas), sivilisasi (karya yang dihasilkan manusia), kebudayaan, dan kepribadian. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa “ A Curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”.  Disini Beauchamp menekankan bahwa kurikulum adalah sebuah rencana yang harus dijalankan oleh siswa dan guru selama proses belajar mengajar berlangsung untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam undang-undang telah dinyatakan bahwa: “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan”.

Kurikulum dalam arti sempit dipandang hanya sebagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa untuk mendapatkan ijazah. Dalam arti  luas, kurikulum adalah semua pengalaman belajar yang dilakukan pihak sekolah untuk mempengaruhi perkembangan pribadi siswa ke arah yang lebih positif sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Sebuah kurikulum biasanya berdasarkan pada berbagai landasan, seperti landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan psikologis, landasan organisator.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum:

  1. Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan khusus) yang mendasari perencanaan pengajaran.
  2. Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
  3. Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.
  4. Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan pembangunan semua sektor ekonomi.
  5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi dimensionalnya.
  6. Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya.

Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum. Kurikulum dapat dilihat sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya. Kurikulum dapat dilihat sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, pengetahuan, sikap keterampilan tertentu dan kurikulum juga dapat dilihat sebagai pengalaman siswa.

Dari penelusuran konsep, pada dasarnya kurikulum memiliki tiga dimensi pengertian, yakni kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran. Pengertian kurikulum sebagai mata pelajaran dapat dilihat dari definisi Robert M. Hutchins (1936) yang menyatakan bahwa: “The curriculum should include grammar, reading, theoretic and logic, and mathematic, and addition at the secondary level introduce the great books of the western world”. Dengan adanya tuntutan baru dari masyarakat terhadap sekolah, mengakibatkan kurikulum mengalami pergeseran makna, yang tadinya hanya sebagai mata pelajaran kini menjadi segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman siswa baik di dalam maupun di luar sekolah selama itu menjadi tanggung jawab sekolah. Banyak tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman, di antaranya adalah Hollis L, Caswell dan Campbell (1935), yang menyatakan bahwa kurikulum adalah “… all of the experiences children have under the guidance of teacher”. Romine (1945) mengatakan bahwa: “Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences wich pupils have under direction of the school, wether in the classroom or not”.  Pendapat kurikulum sebagai perencanaan belajar di antaranya dikemukakan oleh Hilda Taba (1962): “A curriculum is a plan for learning: therefore, what is known about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of a curriculum”.

Peran dan Fungsi Kurikulum

Peran Konservatif: Melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu. Peran Kreatif: Mengandung hal-hal baru guna mendorong potensi yang dimiliki siswa. Peran Kritis dan Evaluatif: Menyeleksi nilai dan budaya mana yang harus dipertahankan, dan nilai atau budaya baru mana yang harus dimiliki siswa. Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi,  yaitu fungsi pendidikan umum, suplementasi, eksplorasi, dan keahlian.

Daftar Pustaka

Sanjaya, Wina (2010). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195201281982031-WAWAN_DANASASMITA/TUGAS_MAHASISWA/BAB_I-KONSEP_KURIKULUM.pdf

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-dan-konsep-kurikulum.html

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: