Model Pengembangan dan Organisasi Kurikulum

Wednesday, March 20th, 2013

Model Pengembangan dan Organisasi Kurikulum.

oleh Fertika

 

Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain, menerapkan, dan mengevaluasi suatu kurikulum. Untuk itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan. Setiap model pengembangan kurikulum memiliki karakteristik pada pola desain, implementasi, evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran. Model-model pembelajaran yang akan dibahas, yaitu model Ralph Tyler (1949), Administratif, Grass Root, Demonstrasi, Miller-Seller, Taba dan model Beauchamp.

Menurut model Tyler, ada empat tahap yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

  1. Menentukan tujuan pendidikan;
  2. Menentukan proses pembelajaran yang harus dilakukan;
  3. Menentukan organisasi pengalaman belajar;
  4. Menentukan evaluasi pembelajaran.

Terdapat tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dalam penentuan tujuan pendidikan, yaitu hakikat peserta didik, kehidupan masyarakat masa kini, dan pandangan para ahli bidang studi. Selanjutnya ketiga sumber ini difilter oleh nilai-nilai filosofis masyarakat, filosofis pendidikan serta psikologi belajar. Ada lima faktor penentuan tujuan pendidikan, yaitu: pengembangan kemampuan berpikir, membantu memperoleh informasi, pengembangan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat peserta didik, dan pengembangan sikap sosial. Dalam proses pembelajaran yang harus diperhatikan adalah persepsi dan latar belakang kemampuan peserta didik.

Model administratif, model pengembangan ini disebut juga dengan istilah dari atas ke bawah (top down) atau staf line (line-staff procedure), artinya pengembangan kurikulum ini ide awal dan pelaksanaannya dimulai dari para pejabat tingkat atas pembuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pengembangan kurikulum. Kurikulum yang disusun merupakan kurikulum yang bentuknya seragam dan bersifat sentralistik, sehingga kurang sesuai jika diterapkan dalam bidang pendidikan yang negaranya menganut asas desentralisasi.

Model Grass Roots, model ini kebalikan dari model administratif, dimana pengembangan kurikulum ini dimulai dari bawah, diawali dari gagasan guru sebagai pelaksana pendidikan di sekolah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:

  1. Guru harus profesional;
  2. Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum, penyelesaian permasalahan kurikulum;
  3. Guru harus terlibat langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan penentuan evaluasi;
  4. Seringnya pertemuan kelompok dalam pembahasan kurikulum yang akan berdampak terhadap pemahaman guru dan menghasilkan konsensus tujuan, prinsip, maupun rencana-rencana.

Model demonstrasi memiliki beberapa keuntungan, di antaranya: kurikulum ini lebih nyata dan praktis karena dihasilkan melalui proses yang telah diuji dan diteliti secara ilmiah, perubahan kurikulum dalam skala kecil atau pada aspek yang lebih khusus kemungkinan kecil akan ditolak oleh pihak administrator, akan berbeda dengan perubahan kurikulumyang sangat luas dan kompleks, hakikat model demonstrasi berskala kecil akan terhindar dari kesenjangan dokumen dan pelaksanaan di lapangan, model ini akan menggerakkan inisiatif, kreativitas guru-guru serta memberdayakan sumber-sumber administrasi untuk memenuhi kebutuhan dan minat guru dalam mengembangkan program baru.

Model Miller-Seller merupakan pengembangan kurikulum kombinasi dari model transmisi (Gagne) dan model transaksi (Taba’s & Robinson). Langkah pertama adalah menguji dan mengklarifikasi orientasi. Menurut Miller dan Seller, ada tiga jenis orientasi kurikulum yaitu transmisi, transaksi, dan transformasi. Langkah berikutnya adalah mengembangkan tujuan umum (aims) dan mengembangkan tujuan khusus berdasarkan orientasi kurikulum yang bersangkutan. Langkah selanjutnya adalah identifikasi model mengajar. Model mengajar harus disesuaikan dengan tujuan umum ataupun tujuan khususnya, struktur harus sesuai dengan kebutuhan siswa, guru harus memahami model yang disajikan, harus memiliki sumber yang essensial dalam pengembangan model. Langkah yang terakhir adalah implementasi, penerapan kurikulum berdasarkan langkah-langkah sebelumnya.

Model Taba, model ini merupakan modifikasi dari model Tyler, ditekankan terutama pada pemusatan perhatian guru. Menurut Taba, guru  harus menjadi innovator dalam pengembangan kurikulum. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model pengembangan ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru;
  2. Menguji unit eksperimen;
  3. Mengadakan revisi dan konsolidasi;
  4. Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum
  5. Implementasi dan desiminasi.

Model Beauchamp memiliki lima tahapan, yaitu:

  1. Menentukan arena atau wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum;
  2. Menetapkan personalia (siapa saja yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum);
  3. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum, berkenaan dengan merumuskan tujuan umum, khusus, memilih isi, kegiatan evaluasi dan desain kurikulum secara keseluruhan;
  4. Implementasi kurikulum;
  5. Evaluasi kurikulum.

Setelah dibahas mengenai model pengembangan kurikulum, sekarang kita bahas tentang organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum merupakan pola susunan sajian isi kurikulum, yang bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.

Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan sehubungan dengan organisasi kurikulum, yaitu: ruang lingkup atau cakupan, urutan bahan, kontinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan. Secara umum terdapat dua bentuk organisasi kurikulum, yaitu kurikulum berdasarkan mata pelajaran dan kurikulum terpadu.

Kurikulum berdasarkan mata pelajaran dapat dibagi ke dalam tiga bentuk, di antaranya:

  1. Mata pelajaran yang terpisah-pisah, dalam proses pembelajarannya cenderung kurang memerhatikan aktifitas siswa karena yang dianggap penting adalah penyampaian informasi sebagai bahan pelajaran dapat diterimadan dihafal oleh siswa.
  2. Mata pelajaran terhubung, isi kurikulum yang menghubungkan pembahasan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, atau satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya.
  3. Fusi mata pelajaran, menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan. Contohnya IPA, IPS, Bahasa, Matematika, Kesenian.

Kurikulum terpadu terbagi ke dalam tiga bentuk, yaitu:

  1. Kurikulum inti, menggunakan bahan-bahan dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu guna menjawab atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapi atau dipelajari siswa;
  2. Social Functions dan Persistent Situations, didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat;
  3. 3.      Experiences atau Activity Curriculum, cenderung mengutamakan pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintregrasi dengan lingkungan maupun dengan potensi siswa.

 

Sumber :

Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI.

 

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

Wednesday, February 27th, 2013

Kurikulum selain mempunyai landasan dan komponen-komponen pengembangan yang saling berhubungan satu sama lain, kurikulum juga memiliki prinsip-prinsip pengembangannya. Menurut Wikipedia prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum ataupun individual yang dijadikan oleh seseorang atau kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum menunjukkan pada suatu pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam menentukan berbagai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum, terutama dalam fase perencanaan kurikulum.
Ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu: data empiris, data eksperimen, cerita/legenda yang hidup di masyarakat, dan akal sehat (Olivia, 1992:28). Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe prinsip, yaitu: anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh, anggapan kebenaran parsial, dan anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian.
Sesuai dengan ketetapan pada Permen nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Kurikulum Sekolah dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini:
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi kompetensi lulusan disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntunan lingkungan.
b. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, status sosial, ekonomi, dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar subtansi.
c. Tanggap terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
f. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1997) prinsip-prinsip pengembangan kurikulum terbagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Sedangkan Asep Herry Hernawan, dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Prinsip-prinsip ini digunakan dalam mengembangkan kurikulum. Walaupun banyak ahli yang mengklasifikasikan prinsip pengembangan kurikulum yang berbeda-beda, namun pada hakikatnya sama-sama bertujuan untuk memperjelas proses kerja para pengembang kurikulum dan menghasilkan kurikulum yang sempurna.

Sumber :
Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. (2007). Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT IMTIMA
Sudrajat, Akhmad.(2008). Prinsip pengembangan Kurikulum.
[Online].
Tersedia:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/ [23 Februari 2013]
http://id.wikipedia.org/wiki/Prinsip
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/196610191991021-RUDI_SUSILANA/KP3-PRINSIP_PENGKUR.pdf

Komponen- Komponen Pengembangan Kurikulum

Wednesday, February 20th, 2013

Bagian yang harus ada dalam suatu sistem disebut dengan komponen. Suatu sistem pasti memiliki komponen-komponen yang mendukung keberhasilan sistem tersebut. Komponen yang ada haruslah berkaitan satu sama lain. Hal ini akan menjadi sebuah alat untuk memperkuat kedudukan sistem tersebut dalam posisi tertentu. Begitu pula pada kurikulum. Kurikulum mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan.

Komponen-komponen pengembangan kurikulum menurut buku  Kurikulum dan Pembelajaran yang ditulis oleh Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran Universitas Pendidikan Indonesia terbagi ke dalam empat komponen.

Pertama, komponen tujuan yang berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem yang dianut masyarakat. Menurut Bloom bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan ke dalam tiga domain, domain kognitif (kemampuan berfikir) yang mempunyai enam tingkatan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Domain afektif (sikap, nilai-nilai dan apresiasi) yang memiliki lima tingkatan, yaitu penerimaan, merespon, menghargai, mengorganisasi, karakterisasi nilai ( Krathwohl, dkk, 1964) dan domain psikomotor (keterampilan seseorang) yang memiliki tujuh tingkatan, yaitu persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, menyesuaikan, dan menciptakan.

Kedua, komponen isi/materi pelajaran yang berhubung baik dengan pengetahuan maupun aktivitas siswa  untuk mencapai tujuan tertentu. Ketiga, komponen metode/strategi yang merupakan implementasi kurikulum meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan. Keempat, komponen evaluasi yang digunakan sebagi alat untuk melihat keberhasilan pencapaian tujuan yang terbagi dua jenis, tes dan non tes.

 Tes biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. Tes harus memiliki kriteria validitas, dimana dapat mengukur yang hendak diukur dan harus memiliki kritea reabilitas, dimana jika tes tersebut menghasilkan informasi yang konsisten.

Berdasarkan jumlah peserta tes dibagi menjadi tes kelompok dan tes individual. Dilihat dari pelaksanaannya, tes dapat dibedakan menjadi tes lisan, tes tertulis dan tes perbuatan. Kita sering mendengar istilah tes lisan dan tertulis, namun untuk tes perbuatan mungkin sebagian orang baru mendengarnya. Tes perbuatan ini cocok manakala kita ingin mengetahui keterampilan yang dimiliki siswa atau lebih orang mungkin menyebutnya tes kinerja.

Adapun non tes yang biasanya mengukur dari tingkah laku, sikap, minat dan motivasi siswa. Jenisnya ada observasi, wawancara, studi kasus, dan skala penilaian.

Menurut buku Ilmu dan Aplikasi Pendidikan bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis yang ditulis oleh Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP UPI, ada empat komponen kurikulum yang saling berkaitan, yaitu komponen dalam dimensi ide yang berkenaan dengan landasan filosofis dan teori kurikulum, dimensi dokumen berisikan komponen seperti tujuan, proses, konten dan assesment, dimensi proses merupakan implementasi dari apa yang direncanakan dalam dokumen, dimensi hasil adalah apa yang dimiliki siswa dimana ini merupakan suatu pembuktian apakah tujuan pembelajaran telah berhasil atau belum.

Perbedaan kedua buku tersebut dalam membagi komponen kurikulum hanya terdapat pada komponen pertama, dimana buku pertama menyebutkan bahwa komponen yang pertama adalah tujuan, sedangkan pada buku kedua, komponen pertama adalah landasan dan tujuan masuk ke dalam komponen dokumentasi. Namun, pada dasarnya sama-sama membahas komponen yang harus ada untuk mengembangkan kurikulum itu diawali dengan landasan Urutan dalam pembagian komponen pada buku pertama diurutkan secara sistematis, dimana jika komponen pertama tidak ada maka komponen yang lainnya tidak ada. Bagaimanapun pembagiannya, kurikulum mempunyai komponen yang saling berkaitan dan saling melengkapi satu sama lain. Ketika  satu komponen dalam pengembangan kurikulum tidak ada maka  kurikulum tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan; dan ketika salahsatu komponen dalam kurikulum tidak berjalan dengan baik maka itupun tujuan kurikulum pun tidak akan tercapai dengan baik.

 

 

Sumber :

Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. (2007). Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT IMTIMA

 

Landasan Pengembangan Kurikulum

Thursday, February 14th, 2013

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang berperan penting dalam pendidikan. Oleh karena itu kurikulum harus dikembangkan berdasarkan asas-asas tertentu. Fungsi asas atau landasan pengembangan kurikulum adalah seperti fondasi dalam sebuah bangunan. Untuk mendapatkan bangunan yang kokoh tentu saja diperlukan fondasi yang kokoh juga agar bangunan tersebut dapat berdiri kuat, tidak mudah roboh ketika diterpa angin kencang. Begitupula dalam pendidikan, jika kurikulum memiliki landasan yang kuat maka apa yang telah disusun pada awalnya akan berjalan sesuai dengan tujuan akhirnya dan tidak akan mudah goyah dengan hal-hal lain yang dapat menggoyahkan sistem dalam pendidikan ini.

Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Orientasi pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut enam aspek, yaitu:

  1. Tujuan pendidikan menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya, hendak dibawa ke mana siswa yang kita didik itu;
  2. Pandangan tentang proses pembelajaran: apakah anak dianggap sebagai organisme yang aktif atau pasif;
  3. Pandangan tentang proses: apakah proses pembelajaran itu dianggapa sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah perilaku anak;
  4. Pandangan tentang lingkungan: apakah belajar harus dikelola secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar;
  5. Konsepsi tentang peranan guru: apakah guru harus berperan sebagai instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang siap member bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar;
  6. Evaluasi belajar: apakah mengukur keberhasilan ditentukan dengan tes atau nontes.

Robert S.Zais (1976) mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum. Yaitu: Philosophy and the nature of knowledge, society and culture, the individual, dan learning theory. Dengan berpedoman pada empat landasan tersebut, maka perancangan dan pengembangan suatu bangunan kurikulum yaitu pengembangan tujuan (aims, goals, objective), pengembangan isi/materi (content), pengembangan proses pembelajaran (learning activities), dan pengembangan komponen evaluasi (evaluation), harus didasarkan pada landasan filosofis, psikologis, sosiologis, serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

  1. Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum membahas dan mengidentifikasi landasan filsafat dan implikasinya dalam mengembangkan kurikulum. Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah asumsi-asumsi atau rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analitis, logis, dan sistematis (filosofis) dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum.

Menurut Redja Mudyahardjo (1989), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan yaitu filsafat idealisme, realisme, dan fragmatisme. Menurut filsafat idealisme bahwa kenyataan pada hakikatnya adalah spiritual daripada bersifat fisik, bersifat mental daripada bersifat material.

Menurut filsafat idealisme, manusia adalah mahluk yang cerdas dan bertujuan, tujuan pendidikan harus dikembangkan pada upaya pembentukan karakter, pembentukan bakat insani dan kebajikan sosial sesuai dengan hakikat kemanusiaannya. Isi kurikulum dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir manusia, menyiapkan keterampilan bekerja yang dilakukan melalui program dan proses pendidikan secara praktis. Implikasi bagi para pendidik yaitu bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terselenggaranya pendidikan.

 Filsafat realisme boleh dikatakan kebalikan dari filsafat idealisme, dimana menurut filsafat realisme memandang bahwa dunia adalah bersifat materi. Mengingat segala sesuatu bersifat materi maka tujuan pendidikan hendaknya dirumuskan terutama diarahkan untuk melakukan penyesuaian diri dalam hidup dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Isi kurikulum lebih efektif diorganisasikan dalam bentuk mata pelajaran karena memiliki kecenderungan berorientasi pada mata pelajaran. Implikasi bagi para pendidik, pendidik harus menguasai tugas-tugas yang terkait dengan pendidikan khususnya dengan pembelajaran, seperti penguasaan terhadap metoda, media dan strategi serta teknik pembelajaran.

Filsafat fragmatisme memandang bahwa kenyataan tidaklah mungkin dan tidak perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik, plural dan berubah (becoming).  Tujuan pendidikan lebih diarahkan pada upaya untuk memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah baru dalam kehidupan individu maupun sosial. Implikasinya ialah harus memuat pengalaman-pengalaman yang telah teruji yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Landasan filosofis pendidikan nasional, landasan pendidikan di Indonesia adalah sesuai dengan kandungan falsafah Pancasila itu sendiri.

Manfaat filsafat pendidikan menurut Nasution (1982): Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di sekolah?, mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai melalui filsafat yang kita anut ini, memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan, tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya, hingga manakah tujuan itu tercapai, tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan.

 

  1. Landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum membahas dan mengidentifikasi landasan psikologis dan implikasinya dalam pengembangan kurikulum. Dalam landasan psikologis pengembangan kurikulum, terdapat dua hal yang harus diperhatikan yakni psikologi belajar dan psikologi perkembangan. Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap pengembangan kurikulum terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu diberikan kepada siswa dan bagaimana siswa harus mempelajarinya, berarti berkenaan dengan strategi pelaksanaan kurikulum.

Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi kurikulum yang diberikan kepada siswa, baik tingkat kedalaman dan keluasan materi, tingkat kesulitan dan kelayakannya serta kebermanfaatan materi senantiasa disesuaikan dengan taraf perkembangan peserta didik.

Macam-macam pendapat mengenai perkembangan anak: Rousseau percaya bahwa anak harus belajar dari pengalaman langsung, artinya campur tangan pendidikan tidak terlalu mendominasi, pendapat lain bahwa perkembangan anak adalah hasil dari pengaruh lingkungan (teori Tabularasa dengan tokohnya yaitu John Locke), ada juga yang mengatakan bahwa perkembangan anak itu merupakan hasil perpaduan antara pembawaan dan lingkungan(Aliran konvergensi dengan tokohnya William Stern, pandangan yang terakhir adalah teori tugas-tugas perkembangan oleh Havighurst. Dengan tugas-tugas perkembangan ini anak akan berkembang secara kumulatif dari yang sederhana menuju ke arah  yang lebih kompleks. Implikasinya terhadap perkembangan kurikulum adalah setiap anak diberi kesempatan untk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya, disamping disediakan pelajaran yang bersifat umum yang wajib dipelajari, disediakan pula pelajaran yang sesuai minat siswa, kurikulum disamping menyediakan bahan ajar kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik. Bagi anak yang berbakat di bidang akademik diberi kesempatan melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya, kurikulum memuat tujuan-tujuan yang mengandung pengetahuan, nilai/sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan batin.

 Psikologi belajar merupakan suatu cabang ilmu yang mengkaji bagaimana individu belajar. Teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga rumpun: teori daya, behaviorisme, organismik atau cognitive gestalt field. Menurut teori daya, anak dari sejak lahir sudah memiliki potensi, potensi-potensi ini yang selnajutnya akan dilatih dalam proses pembelajaran. Menurut teori behaviorisme, individu tidak membawa potensi sejak lahir, perkembangan individu ditentukan oleh lingkungannya. Menurut teori organismik, manusia dianggap sebagai organisme yang melakukan timbal balik  dengan lingkungan secara keseluruhan. Belajar menurut teori ini bukan menghafal melainkan dapat memecahkan masalah dan metode yang digunakan adalah metode ilmiah dengan cara anak dihadapkan pada suatu masalah

 

  1. Landasan sosiologis dan IPTEK membahas dan mengidentifikasi landasan sosiologis, ilmu pengetahuandan teknologi serta implikasinya dalam mengembangkan kurikulum. Landasan sosiologis, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengembangkan kurikulum. Manusia sebagai mahluk yang berbudaya, hendaklah tidak meninggalkan budayanya sendiri. Dengan ini kurikulum dibuat untuk menyadarkan manusia agar menjaga budayanya dan melestarikannya. Seiring berkembangnya teknologi maka kurikulum pun harus menyesuaikan dengan perkembangan ini agar siswa dapat bersaing di dunia global ini.

Becher dan Maclure (Cece Wijaya, dkk.1988) menyebutkan 6 dimensi pendekatan nasional dalam perkembangan kurikulum di suatu Negara, yaitu: kerangka acuan yang jelas tentang tujuan nasional dihubungkan dengan program pendidikan, hubungan yang erat antara pengembangan kurikulum nasional dengan reformasi sosial politik negara, mekanisme pengawasan (kontrol) dari kebijakan kurikulum yang ditempuh, mekanisme pengawasan dari pengembangan dan aplikasi kurikulum di sekolah, metode ke arah pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan, penelaahan derajat desentralisasi (degree of decentralization) dari implementasi kurikulum di sekolah

 

 

Sumber:

Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung : Jurusan Kutekpen FIP UPI.

Sanjaya, Wina (2010). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana

 

Konsep Kurikulum

Wednesday, February 6th, 2013

KURIKULUM. Ketika mendengar kata kurikulum, banyak orang mengaitkan kata tersebut pada bidang pendidikan, ya, karena kata tersebut lebih sering digunakan dalam bidang pendidikan. Tahukah Anda? bahwa sebenarnya kurikulum itu awalnya lebih dikenal pada bidang olahraga, namun sejak tahun 1856 istilah tersebut dikenal dalam bidang pendidikan. Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, curir yang berarti pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Kurikulum populer di Indonesia sejak tahun 1950-an yang diperkenalkan oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat. Dalam sumber yang berbeda ada yang menyebutkan bahwa kurikulum berasal dari kata curriculum yang berarti lintasan untuk balap kereta kuda yang biasa dilakukan oleh bangsa Romawi pada zaman kaisar Gaius Julius Caesar di abad pertama tahun masehi.

Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan harus memiliki tujuan dan sasaran yang akan dicapai, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar. Berikut ini beberapa hal mengenai kurikulum di kalangan masyarakat pada umumnya:

  1. Kurikulum dibuat untuk mencapai tujuan pendidikan jangka panjang;
  2. Kurikulum dijadikan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran (bagi guru);
  3. Kurikulum merupakan kumpulan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa atau yang harus disampaikan oleh guru;
  4. Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan (bagi kepala sekolah);
  5. Kurikulum merupakan pengaturan yang sistematis dan terstruktur;
  6. Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu;
  7. Kurikulum mengandung cara, metode, dan strategi pengajaran;
  8. Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan;

Para ahli pendidikan mempunyai pandangan yang berbeda-beda terhadap kurikulum, contohnya saja Bogoslousky yang mengutarakan bahwa kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, yaitu universum (ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas), sivilisasi (karya yang dihasilkan manusia), kebudayaan, dan kepribadian. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa “ A Curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”.  Disini Beauchamp menekankan bahwa kurikulum adalah sebuah rencana yang harus dijalankan oleh siswa dan guru selama proses belajar mengajar berlangsung untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam undang-undang telah dinyatakan bahwa: “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan”.

Kurikulum dalam arti sempit dipandang hanya sebagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa untuk mendapatkan ijazah. Dalam arti  luas, kurikulum adalah semua pengalaman belajar yang dilakukan pihak sekolah untuk mempengaruhi perkembangan pribadi siswa ke arah yang lebih positif sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Sebuah kurikulum biasanya berdasarkan pada berbagai landasan, seperti landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan psikologis, landasan organisator.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum:

  1. Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan khusus) yang mendasari perencanaan pengajaran.
  2. Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
  3. Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.
  4. Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan pembangunan semua sektor ekonomi.
  5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi dimensionalnya.
  6. Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya.

Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum. Kurikulum dapat dilihat sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya. Kurikulum dapat dilihat sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, pengetahuan, sikap keterampilan tertentu dan kurikulum juga dapat dilihat sebagai pengalaman siswa.

Dari penelusuran konsep, pada dasarnya kurikulum memiliki tiga dimensi pengertian, yakni kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran. Pengertian kurikulum sebagai mata pelajaran dapat dilihat dari definisi Robert M. Hutchins (1936) yang menyatakan bahwa: “The curriculum should include grammar, reading, theoretic and logic, and mathematic, and addition at the secondary level introduce the great books of the western world”. Dengan adanya tuntutan baru dari masyarakat terhadap sekolah, mengakibatkan kurikulum mengalami pergeseran makna, yang tadinya hanya sebagai mata pelajaran kini menjadi segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman siswa baik di dalam maupun di luar sekolah selama itu menjadi tanggung jawab sekolah. Banyak tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman, di antaranya adalah Hollis L, Caswell dan Campbell (1935), yang menyatakan bahwa kurikulum adalah “… all of the experiences children have under the guidance of teacher”. Romine (1945) mengatakan bahwa: “Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences wich pupils have under direction of the school, wether in the classroom or not”.  Pendapat kurikulum sebagai perencanaan belajar di antaranya dikemukakan oleh Hilda Taba (1962): “A curriculum is a plan for learning: therefore, what is known about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of a curriculum”.

Peran dan Fungsi Kurikulum

Peran Konservatif: Melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu. Peran Kreatif: Mengandung hal-hal baru guna mendorong potensi yang dimiliki siswa. Peran Kritis dan Evaluatif: Menyeleksi nilai dan budaya mana yang harus dipertahankan, dan nilai atau budaya baru mana yang harus dimiliki siswa. Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi,  yaitu fungsi pendidikan umum, suplementasi, eksplorasi, dan keahlian.

Daftar Pustaka

Sanjaya, Wina (2010). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195201281982031-WAWAN_DANASASMITA/TUGAS_MAHASISWA/BAB_I-KONSEP_KURIKULUM.pdf

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-dan-konsep-kurikulum.html

 

 

 

 

 

 

 

 

Strategi Pembelajaran

Tuesday, February 5th, 2013

Strategi digunakan seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai apa yang diinginkan, apa yang menjadi tujuan awalnya, dan apa yang dapat membawanya terhadap kesuksesan dalam mencapai tujuan. Biasanya strategi digunakan dalam peperangan dan pertandingan, dimana keduanya mempunyai tujuan untuk mencapai kesuksesan tertentu. Istilah strategi ini juga digunakan dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (J.R. David, 1976). Berdasarkan pengertian tersebut ada dua hal yang dapat dicermati. Pertama, strategi pembelajaran yang hanya sebatas rancangan saja tidak sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam penyusunan strategi pembelajaran diperlukan tujuan yang jelas agar dapat mencapai keberhasilan yang memuaskan.

Ada beberapa istilah yang memiliki kemiripan dengan strategi yang sering sebagian orang menyamaratakan arti dari istilah-istilah ini. Istilah-istilah tersebut adalah metode, pendekatan, teknik dan taktik. Sebenarnya pengertian dari strategi, metode, pendekatan, teknik dan taktik itu berbeda. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan suatu strategi. Pendekatan (approach) dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Strategi dan metode pembelajaran yang digunakan tergantung dari pendekatan tertentu. Ada dua pendekatan pembelajaran menurut Roy Killen (1998) yaitu, pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approaches).

Selain itu ada juga teknik dan taktik yang merupakan penjabaran dari metode. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang untuk menjalankan suatu metode. Misalnya, bagaimana cara seorang guru menggunakan metode ceramah agar berjalan efektif dan efesien?. Dengan demikian, sebelum melakukan ceramah tersebut guru harus melihat kondisi dan situasi kelas terlebih dahulu. Misalnya, ceramah dengan kapasitas orang yang banyak di siang hari akan berbeda dengan ceramah di pagi hari dengan jumlah siswa yang terbatas. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu yang sifatnya lebih individual.

Beberapa jenis strategi pembelajaran, diantaranya strategi pembelajaran ekspositori, strategi pembelajaran inkuiri, dan strategi pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran ekspositori menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal. Guru menerangkan seluruh materi secara terstruktur kepada siswa dan siswa mendengarkan seluruh materi yang dijelaskan oleh guru. Guru mendominasi di kelas. Pendekatan dalam strategi pembelajaran ini adalah teacher centered approach. Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademis siswa.

Strategi pembelajaran inkuiri menekankan pada proses berfikir kritis dan analisis pencarian solusi terhadap masalah yang dipertanyakan. Siswa dibimbing oleh guru untuk mecari tahu sendiri jawaban terhadap apa yang menjadi masalah yang berkaitan dengan materi dalam pembelajaran di dalam kelas. Biasanya bisa dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga disebut strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan. Strategi inkuiri menekankan pada aktivitas siswa menemukan jawaban, menambah percaya diri siswa, dan mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara sistematis, logis, dan kritis.

Strategi pembelajaran koorperatif menekankan pada sistem pengelompokan/tim kecil yang mempunyai latar belakang kemampuan akademis, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda. Dengan menggunakan strategi pembelajaran koorperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, meningkatkan hubungan sosial antar siswa, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain serta dapat meningkatkan harga diri. Bekerja sama dalam mengerjakan tugas kelompok dapat melatih siswa untuk mengembangkan kepribadian yang lebih baik. Misalnya, siswa dapat melatih diri menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, menjadi anggota yang bisa menyelesaikan masalah bersama-sama dan menghindari keegoisan dalam diri, melatih kesabaran ketika ada beberapa anggota yang belum mengerti dan belum mengikuti instruksi yang diberikan, dan saling melengkapi satu sama lain agar kelompok yang dibuat dapat sukses dan berhasil pada akhirnya.

Daftar Pustaka

Sanjaya, Wina (2010). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana

27 Point tentang Kurikulum

Monday, February 4th, 2013
  1. Kurikulum dibuat untuk mencapai tujuan pendidikan jangka panjang
  2. Kurikulum dijadikan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran
  3. Kurikulum merupakan kumpulan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa atau yang harus disampaikan oleh guru
  4. Kurikulum populer di Indonesia sejak tahun 1950-an yang diperkenalkan oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat
  5. Kurikulum berasal dari kata Kurikulum curriculum yang berarti lintasan untuk balap kereta kuda yang biasa dilakukan oleh bangsa Romawi pada zaman kaisar Gaius Julius Caesar di abad pertama tahun masehi
  6. Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan harus memiliki tujuan dan sasaran yang akan dicapai, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar, dan akhirnya evaluasi hasil belajar
  7. Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan
  8. Kurikulum merupakan pengaturan yang sistematis dan terstruktur
  9. Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu

10. Kurikulum mengandung cara, metode, dan strategi pengajaran

11. Kurikulum merupakan pedoman kegiatan belajar mengajar

12. Kurikulum dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan

13. Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan

14. Sebuah kurikulum biasanya berdasarkan pada berbagai landasan, seperti landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan psikologis, landasan organisator

15. Menurut S.Nasution (2006:10), sekurang-kurangnya ada tiga dimensi kefilsafatan yang harus dipertimbangkan ketika merancang konsep kurikulum pendidikan, antara lain adalah falsafah pendidikan, falsafah Negara, dan falsafah lembaga pendidikan

16. Nurgianto, 1988:2, Secara filosofis pendidikan merupakan alat pemasukan (input instrumental) sebagai sarana terwujudnya proses kegiatan pendidikan dan berarti pula sarana tercapainya tujuan pendidikan

17.  Filsafat bangsa biasanya merupakan akumulasi nilai dari semua suku, agama, golongan, dan kepentingan politik pada sebuah Negara yang selalu diarahkan agar semua program pendidikan diorientasikan untuk menjaga dan mengembangkan filsafat tersebut

18. Bentuk filsafat lembaga pendidikan ini dapat diketahui dari misi, visi dan tujuan instutisional suatu lembaga pendidikan, jarang sekali dinyatakan secara jelas, spesifik, dan eksplisit dalam bentuk tertulis (Abdullah, 1999:60)

19. Aliran filsafat dalam penyusunan kurikulum : Perenialisme= pendidikan harus lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh (Mohammad Noor Syam, 1984). Aliran ini lebih menekankan kepada keabadian, keidealan, kebenaran, dan keindahan dari warisan budaya dan dampak social tertentu dan lebih berorientasi pada masa lalu. Perennial yang berarti abadi, kekal, atau selalu. Essensialisme= berpandangan bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama dalam memberikan kestabilan, mempunyai tata aturan yang jelas. Progresivisme= berpandangan bahwa pengetahuan yang benar masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang, pendidikan harus berpusat pada anak bukan pada guru atau bidang muatan, bermaksud untuk menjadikkan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Rekontruksi= suatu susunan yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern, lebih menekankan tentang pemecahan masalah, hasil belajar dan proses

20. Dalam undang-undang telah dinyatakan, bahwa: “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.”

21. Bogoslousky mengutarakan bahwa kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, yaitu universum (ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas), sivilisasi (karya yang dihasilkan manusia), kebudayaan, kepribadian

22. Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa yunani, curir yang berarti pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Awalnya lebih dikenal pada bidang olahraga, namun sejak tahun 1856 istilah tersebut dikenal dalam bidang pendidikan

23. Kurikulum dalam arti sempit dipandang hanya sebagai mata pelajaran yang harus ditempuh siswa untuk mendapatkan ijazah. Dalam arti  luas, kurikulum adalah semua pengalaman belajar yang dilakukan pihak sekolah untuk mempengaruhi perkembangan pribadi siswa ke arah yang lebih positif sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan

24. Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum

25. Kurikulum dapat dilihat sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuannya

26. Kurikulum dapat dilihat sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, pengetahuan, sikap keterampilan tertentu

27. Kurikulum dapat dilihat sebagai pengalaman siswa

Daftar Pustaka

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195201281982031-WAWAN_DANASASMITA/TUGAS_MAHASISWA/BAB_I-KONSEP_KURIKULUM.pdf

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-dan-konsep-kurikulum.html